I Gede Aryasantika: Terinspirasi dari Ayah yang Penjahit

Cita-citanya menjadi guru. Lalu mengapa akhirnya tertarik pada dunia rancang busana?

KESUKAAN I Gede Aryasantika akan dunia busana sebetulnya telah bermula sejak kecil. Namun ia tak
terlalu fokus ke sana. Ia malah memusatkan perhatiannya pada cita-citanya menjadi guru Bahasa Indonesia. Aryasantika kembali menjadi tertarik pada dunia fashion karena terinspirasi oleh ayahnya yang menjadi seorang penjahit. “Saya meminati dunia fashion karena terinspirasi dari ayah yang seorang penjahit. Jadi dari kecil saya sudah berada di lingkungan desain. Otomatis saya juga belajar secara otodidak dan banyak bertanya pada ayah saya. Setelah saya menjadi mahasiswa, saya mengembangkan diri di dunia desain namun untuk keperluan show saja, misalnya fashion show, karnaval, dan sebagainya,” tutur Aryasantika.

Setelah mengikuti Bali Designpreneur 2022, barulah Aryasantika beralih ke desain ready to wear. “Saya mulai meminati dunia fashion sejak mahasiswa, umur 18 tahun. Karena saat kuliah, saya mendapat mata kuliah teater dan kebetulan tugas saya di bidang busana. Jadi mau tidak mau, saya harus menggeluti dunia fashion. Dan saya merasa senang berada di dunia fashion ini,” papar Aryasantika. Menjadi seorang perancang busana, hambatan yang dialami oleh Aryasantika hanyalah soal membagi waktu. Maklum, ialah masih tetap seorang guru, sementara di sisi lain ia juga seorang perancang busana. “Kendala saya yang utama adalah membagi waktu antara pekerjaan saya sebagai guru dan dunia fashion. Tapi bukan berarti dunia fashion adalah bidang nomor dua saya. Saya ingin mengembangkan semuanya agar semua bisa saya kerjakan dengan semaksimal mungkin tanpa mengurangi makna dari pekerjaan saya sebagai seorang guru. Semua saya lakukan dengan seimbang,” katanya.

Namun Sejak Aryasantika mengikuti Bali Designpreneur 2022 itu, ia mulai fokus di dunia fashion dan mengangkat tema ecoprint di dalam desain busana endeknya. Kenapa ecoprint? “Karena saya yang notabene tinggal di desa, saya dekat dengan alam. Saya tinggal di Pengulon, Gerokgak, Buleleng. Saya memanfaatkan kekayaan alam itu untuk saya bawa ke desain busana saya. Selain itu, saya melandaskan konsep desain saya pada shio macan di tahun 2022 ini,” tutur Aryasantika. Aryasantika juga mengangkat segala sesuatu elemen dari alam, misalnya air, tanah, atau bunga, untuk menjadi tema desain busananya. “Ke depannya, saya juga akan tetap konsisten dengan tema ecoprint atau tema alam ini untuk desain busana endek saya,” tambah perancang yang mengagumi Cok Abi dan Ivan Gunawan ini.

Dengan begitu, yang terasa tipikal pada rancangan Aryasantika adalah tema ecoprint. Ia akan tetap konsisten menggunakan tema itu untuk karya kreatifnya di dunia fassion. “Saya tidak akan pernah meninggalkan tema ecoprint. Baik itu desain busana kerja atau pun kasual. Itu saja,” tandasnya.

Dengan dinobatkannya dirinya menjadi salah satu dari lima besar dalam ajang Bali Designpreneur 2022, kini Aryasantika benar-benar mendalami dan lebih bersungguh-sungguh menggeluti dunia perancangan busana. “Setelah mengikuti Bali Designpreneur ini, saya akan lebih fokus ke dunia fashion,” pungkasnya.