Koster: Penurunan Laju Pertumbuhan Penduduk Ancam Budaya Bali

Penurunan laju pertumbuhan penduduk di Bali justru mengundang kritik dari Gubernur Bali, Wayan Koster. Menurut dia, hal itu bukanlah sebuah prestasi dan justru mengancam budaya warisan leluhur.

Hal itu disampaikan Gubernur saat memberi sambutan dan membuka rapat Koordinasi Daerah Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali di Grand Inna Bali Beach Hotel, Senin (18/3) kemarin. 

Gubernur menilai tren pertumbuhan penduduk di Bali dalam lima tahun terakhir tergolong stagnan. “Artinya, yang lahir sama yang hidupnya berakhir hampir berimbang. Dan sudah saya dalami per kabupaten datanya. Pertumbuhannya relatif kecil,” kata Gubernur asal Sembiran, Buleleng, itu. 

Ketua PDIP Provinsi Bali itu menyinggung Mars KB yang tidak menyinggung soal pengurangan jumlah. Justru, dia menambahkan sesuai dengan mars tersebut, prestasi di bidang kependudukan adalah bagaimana membangun keluarga yang sehat, cerdas, dan kuat.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Catur Sentana, melaporkan laju pertumbuhan penduduk Bali menurun dari 2,31% pada tahun 2010 menjadi 2,14% pada tahun 2017. Selain itu terjadi pula penurunan angka kelahiran total dari 2,3 pada tahun 2012 menjadi 2,1 per wanita usia subur pada tahun 2018. “Penurunan ini selain sebagai dampak penggunaan kontrasepsi yang telah mencapai 54,8% bagi pasangan usia subur, juga meningkatnya media usia kawin pertama perempuan dari 21,9 tahun menjadi 22,1 tahun,” kata Cakra. 

Gubernur Koster mengakui bahwa angka tersebut menunjukkan program keluarga berencana dua anak di Bali relatif berhasil dari segi angka. Namun bagi masyarakat Bali, data itu justru kurang membahagiakan, karena hilangnya nama-nama seperti Nyoman dan Ketut. “Jadi bagian dari warisan leluhur kami ini hilang,” kata Koster. 

Mantan anggota DPR RI itu mengatakan akan mengubah paradigma kependudukan di Bali dengan tidak lagu fokus pada pengurangan jumlah, namun bagaimana membangun keluarga yang berkualitas dan direncanakan dengan baik. Dia berharap dengan paradigma ini melahirkan generasi yang sehar, cerdas, dan kuat, berdaya saing, produktif, dan berkontribusi.

Sumber: Denpost, Selasa 19/03/2019 Hal 2

Tinggalkan Balasan