Sejumlah kabupaten di Bali kini berlomba – lomba membentuk lembaga pendidikan berbasis Hindu. Lembaga itu nantinya diharaokan mejadi pelopor utama dalam mencetak SDM Bali yang berkualitas. Tidak hanya paham akan agama Hindu dan budaya Bali, namun juga memiliki kecerdasan dalam pengetahuan dan penguasaan teknologi. Apalagi, saat ini SDM Bali tergusur dari berbagai sektor lapangan kerja oleh SDM luar yang memiliki kompetensi sesuai kriteria pasar global.
Pengamat Pendidikan Dr. Ida Bagus Radendra Suastama,S.H.,M.H. mengatakan sekolah maupun perguruan tinggi berbasis Hindu dan Budaya Bali pada dasarnya bertujuan baik. Antara lain agar SDM Bali memiliki karakter Hindu yang kuat dan diharapkan tercermin dalam pola pikir dan perilakunya yang berbudaya dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun, dalam konteks realitas saat ini, daya saing dan keunggulan kualitas manusia bukan hanya berdasar pada sikap dan keyakinan saja. Banyak kompetensi yang harus dikuasai jika ingin menang berkompetensi. Di antaranya, penguasaan keilmuan yang mantap, ketekunan dan keuletan (persistensi), ketangguhan terhadap godaan maupun kegagalan, ketetapan hati (determinasi) mengejar cita-cita dan menjadi terbaik.
Oleh karena itu, sekolah berbasis Hindu dan budaya Bali harus bisa menonjolkan beberapa ciri terpenting ke-Hindu-an. Apalagi, orang Hindu adalah orang yang kuat dalam keyakinannya terhadap karmaphala dan peran penting leluhur dalam kehidupan dan pencapaian kebenaran sejati. “Karakter yang menghargai perbedaan, namun tetap kuat dalam dharma, ini mesti jadi keunggulan tambahan SDM orang Hindu dalam menghadapi persaingan global,” tandas Radendra.
Selain itu, kata Ketua Yayasan Pendidikan Handayani Denpasar ini, sekolah maupun perguruan tinggi berbasis Hindu dan Budaya Bali harus unggul dalam semua kompetensi bidang ilmu dan keterampilan. Jangan hanya menjadi ahli agama, tetapi juga harus unggul dalam sains dan teknologi. “Justru semangat Satyam Eva Jayate harus jadi pembakar semangat anak Hindu untuk mencapai dan menjadi yang terbaik. Karena Jnana Marga dan Karma Marga juga jalan yang sah menuju pada-Nya,” ujarnya.
Rektor Unhi Denpasar Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S. mengatakan, meskipun Unhi Denpasar sebagai lembaga pendidikan tinggi berbasis agama Hindu, dan Kebudayaan, namun dikembangkan juga bidang ilmu sains dan teknologi yang mengacu pada kurikulum nasional. Bahkan, dalam pengembangan sains dan teknologi. Unhi Denpasar menjadikan agama dan budaya sebagai acuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing tinggi, berkarakter, berbudaya, beretika dan berwawasan global yang belum tentu dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi lainnya. Apalagi banyak teknologi Hindu yang bisa diterapkan untuk mewarnai ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi, sehingga lulusan tidak hanya menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi mampu menjadikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut untuk memperkuat nilai-nilai agama dan budaya Hindu ke depannya.
Selain itu, di tengah perubahan dunia pendidikan yang begitu pesat di era revolusi industri 4.0 ini, pihaknya berharap lembaga pendidikan berbasis agama dan budaya Hindu agar menyempurnakan dan meningkatkan mutu dan tata kelola lembaganya dengan mengubah program dan layanan ke arah teknologi digital (online). Di samping juga harus aktif menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di tingkat nasional maupun internasional. “Hal ini penting dilakukan agar lulusan SDM kita di Bali mampu memiliki pengalaman-pengalaman dan wawasan yang mendunia, tidak hanya paham agama dan budaya tetapi bagaimana menjadikan agama dan budaya itu kelebihan kita dalam menyerap ilmu pengetahuan dan terknologi untuk merebut pasar yang ada,” tandas Prof. Damriyasa.
Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Widya Kerthi selaku penyelenggara pendidikan tinggi Unhi Denpasar Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A. mengatakan, pada prinsipnya pendidikan tinggi berbasis agama dan budaya di Bali tidak menutup diri dengan agama dan budaya lainnya, apalagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab, membuka diri akan lebih memperkaya pemahaman diri dalam beragama, berbudaya, serta menambah wawasan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga timbul rasa saling pengertian di dalam mencari modal sosial dan ekonomi dalam melanjutkan pembangunan.
Sumber: Bali Post