Ny. Putri Suastini Koster: “Di Masa Lalu, Produk-Produk Bali selalu Berkualitas dan Limited Edition”

Program Dekranasda Bali untuk tahun 2021 ini lebih banyak menekankan produk-produk unggulan, terutama hasil tenunan dan sejumlah kerajinan unggulan yang lain. Pengutamaan produk unggulan itu dilakukan dengan media pameran-pameran secara online maupun offline. Dari sini kemudian dicoba dilihat ekmungkinan-kemungkinan yang lebih luas lagi, yakni melakukan ekspor dan promosi-promosi ke luar negeri. “Banyak hal-hal yang harus kita lakukan. Tidak hanya sekedar berpameran tetapi harus ada koridornya. Harus ada arah dan tujuan yang pasti yang kita dapatkan, selain materi. Ketika berpameran, tujuannya adalah mengedukasi bahwa kita masih melanjutkan tugas pelestarian, kita semakin profesional dalam manajemen kita,” ungkap Ketua Dekranasda Bali Ny. Putri Suastini Koster. Seperti apakah detail program Dekranasda Bali untuk tahun 2021 tentang produk Bali, UKM dan UMKM? Berikut petikan wawancara dengan Ketua Dekranasda Bali.

Tugas pokok Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Bali jika dilihat dari visinya adalah membangkitkan UMKM menuju perekonomian yang mandiri. Bisa dijabarkan keluasan tugas pokok ini di daerah Bali?

Sebelum Pandemi, saya sebagai Ketua Dekranasda Bali melaksanakan kegiatan- kegiatan yang sama seperti sebelumnya, misalnya pembinaan-pembinaan UMKM, mengikuti pameran-pameran skala nasional dan daerah. Tugas Dekranasda ini ada di antara Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Jadi saya harus memahami, apa yang menjadi tugas Dinas Perindustrian, apa yang menjadi tugas Dinas Perdagangan. Saya sebagai Ketua Dekransda ada di tengah-tengahnya. Jadi saya di Dekranasda bertugas sebagai jembatan antara Industri Kerajinan masyarakat seni di Bali kepada konsumennya. Tentunya di dalamnya ada usaha untuk meningkatkan mutu dan kualitas produk, profesionalisme di dalam manajemen bisnisnya, dan sebagainya.

Dalam program-program tahun ini, nampaknya Ibu lebih banyak melaksanakan program-program pameran untuk UKM dan UMKM tersebut.

Kebetulan ketika Pandemi, pamerannya sudah siap ke platform digital. Kita dididik oleh situasi agar bisa melakukan pameran online dan offline. Jadi saya mengajak UMKM-UMKM untuk belajar lebih mengenal market place, sebuah media online untuk pemasaran produk. Walaupun sebelumnya mereka sudah bisa masuk ke e-commerce yang ada, tetapi kemudian kita lebih mengembangkan yang ada di Bali, yaitu balimall.id. Juga bekerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah Bali, karena bank ini merupakan bank milik pemerintah provinsi. Jadi saya mengajak UMKM untuk mendukung bank milik masyarakat Bali. Sekecil-kecilnya UMKM, ternyata mampu menjadi seperti pelita dalam kegelapan. Artinya perekonomian Bali yang kecil masih menggeliat oleh pelaku UMKM.

Apa rencana ke depannya?

Ke depannya, ayo kita bersama- sama mulai memperkuat sektor-sektor pendukung perekonomian Bali. Ada tiga pendukung sektor perekonomian Bali, yang ibarat segitiga sama sisi, ketiganya sama penting kekuatannya. Jika rontok salah satu, yang dua masih bisa menyangga. Rontok yang dua, yang satu masih bisa menyangga. Jadi tiga pendukung perekonomian Bali ini adalah pariwisata, pertanian dan UMKM. Pertanian dan UMKM terlihat kokoh, tidak terpengaruh oleh pariwisata yang ambruk. Jadi perekonomian di Bali masih tetap berjalan dengan adanya dua pendukung ini.

Sejak Maret 2020, di samping program mencegah penyebaran Pandemi, saya mulai menggerakkan UMKM agar mulai menggeliat, menyemangati kembali para UKM dan UMKM. Kami sudah mengadakan pameran selama tiga tahap, Bagi saya lebih baik kita melakukan dari hal-hal kecil tetapi kita fokus, tulus dan lurus. Lebih baik begitu, daripada kita menunggu sampai kapan Pandemi reda baru kita mulai hal-hal besar. Kita mulai dari hal-hal kecil dulu, jadi ketika hal-hal besar itu datang, kita sudah siap. Misal Pandemi ini selesai, jangan saat itu kita baru mulai. Ibarat olahraga, jangan baru mulai kita langsung lari kencang, nanti otot kita bisa putus. Kita perlu pemanasan dulu. Pelan-pelan kita bergerak sambil kita mengikuti protokol kesehatan karena yang kita hadapi benar-benar tidak kita lihat.

Ada yang percaya dan ada yang tidak, tapi bukti nyata ada. Nanti di Arts Center ini, bapak Gubernur memberikan izin kita untuk memakai tempat tersebut, kita akan memberikan ruang itu untuk para UMKM untuk menampilkan karya-karyanya, kita kembali pada kualitas warisan leluhur kita. Misalnya di bisnis perhiasan, emas dan perak itu sudah dimasuki produk-produk yang murah meriah.

Bali sesungguhnya tidak di sana. Bali punya pasar sendiri karena produknya limited edition dan berkualitas. Ayo kita pertahankan itu. Jangan kita hanya ikut arus. Sebaiknya Bali tetap menjadi trend setter. Kita bisa mempengaruhi mode, tidak hanya untuk di Bali, tapi Indonesia bahkan juga dunia. Karena produk-produk kita di Bali punya ciri khas yang tidak bisa ditiru oleh orang lain. Karena orang lain tidak bisa mengerjakan, lalu kita tidak mau mengerjakan, lalu siapa yang akan mewariskan keahlian tersebut pada anak cucu kita?

Karena itulah kita mengadakan pameran-pameran, di samping kita memperkenalkan produk kita pada masyarakat luas, pada konsumennya, juga mendidik para pelaku usaha ini. Ayo kita mulai ingat akan tugas dan tanggung jawab kita, melestarikan warisan leluhur. Dalam hal ini adalah kerajinan-kerajinan yang ada. Misalnya kain tenun, jangan sampai pengrajin kain tenun kita tidak sejahtera. Padahal pemakainya semakin meningkat, tapi ternyata bukan kita yang memproduksinya. Semakin lama, kita hanya akan menjadi konsumen, itu kekhawatiran saya. Kita menjadi pangsa pasar bagi produsen yang lain. Seharusnya kita, pengrajin di Bali, yang menjadi produsennya. Kita yang jaga konsumen

Dekranasda membawa misi kesejahteraan untuk IKM dan UMKM. Profesionalisme yang kami tanamkan akan membawa UMKM menuju kesejahteraan. Kita tetap harus menjaga nilai-nilai leluhur kita, jangan sampai luntur.

kita, bahkan kita yang meluaskan pasar kita ke luar. Tetapi konsumen kita di Bali harus tetap dipegang. Fakta yang terjadi tidak seperti itu, orang Bali sendiri tidak memakai produk kain yang diproduksi di Bali, sementara kain di Bali tidak punya pasar. Konsumen mereka menghilang. Ketika gak laku, mereka tidak lagi memproduksi. Ketika tidak memproduksi, para senimannya akan mati juga dan menghilang.

Bagaimana menurut Anda tentang etos dan kepribadian orang Bali dalam bekerja?

Banyak hal-hal yang harus kita lakukan. Tidak hanya sekedar berpameran tetapi harus ada koridornya. Harus ada arah dan tujuan yang pasti yang kita dapatkan, selain materi. Ketika berpameran, tujuannya adalah mengedukasi bahwa kita masih melanjutkan tugas pelestarian, kita semakin profesional dalam manajemen kita. Jangan sampai pemilik UMKM tidak bisa memilah mana modal, mana uang pribadi, bagaimana mencari leuntungan. Itu bagian dari profesionalisme. Mengasah kepribadian juga merupakan bagian dari profesionalisme kita sebagai pengusaha. Bukankah hasil karya seni kita yang kita jual kepada konsumen itu hasil dari kebudayaan kita. Kepribadian kita ada di dalamnya. Begitu adiluhungnya karya seni orang Bali, begitu pula kepribadian orang Bali. Trisakti Bung Karno mengatakan bahwa kita harus memiliki kepribadian, mandiri dalam ekonomi, berdaulat dalam bisang politik.

Tugas Ibu di Dekranasda adalah mendukung apa yang menjadi visi misi bapak Gubernur Bali sekarang yaitu Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui pola pembangunan semesta berencana menuju Bali era baru. Bisa dijelaskan lebih rinci?

Era baru bukan berarti harus benar- benar baru dan berbeda, tetapi era baru artinya kita kembali pada hakikinya Bali yang dahulu. Nangun Sat Kerthi artinya intinya kita kembali pada kesejaheraan yang kita inginkan. Karena sekarang kita sesungguhnya sudah semakin jauh dari nilai-nilai kita dahulu yang hakiki, sehat sejahtera, damai, tata-titi tentrem. Bukanhkah itu yang kita inginkan. Tidak hanya bertumpu pada urusan materi dan duniawi semata. Saya ingin memulai dari mengerjakan hal-hal kecil tetapi dengan cinta, ketika kita melakukannya dengan cinta, hal lainnya akan mengikuti. Ketika kita melakukan hal-hal kecil perlahan akan mempengaruhi hal-hal yang lebih besar, terutama kesejahteraan. Itu motto yang selalu saya ingat sejak SMA dulu. Tugas kita hanya bekerja dan bekerja maka alam semesta yang akan menentukan, memberikan hasilnya. Ketika kita fokus ke pekerjaan kita, kita akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi lebih pada kepentingan orangbanyak.

Apakah Dekranasda Bali memberi penekanan pada profesionalisme selain kesejahteraan?

Dekranasda membawa misi kesejahteraan untuk IKM dan UMKM. Profesionalisme yang kami tanamkan akan membawa UMKM menuju kesejahteraan. Kita tetap harus menjaga nilai-nilai leluhur kita, jangan sampai luntur. Dahulu, produk-produk Bali selalu berkualitas dan limited edition. Mungkin karena pengerjaannya yang hand made, mungkin karena faktor alam. Biasanya produk yang terbataslah yang selalu dicari orang. Orang selalu ingin produk yang punya identitas, punya ciri khas dan bukan produk massal. Bali sesungguhnya punya pangsa pasar sendiri. Tugas utama kita adalah menjaga kelestarian nilai-nilai budaya para leluhur. Berinovasilah semampu kita, tetapi jangan meninggalkan akar tradisi. Akar dan ciri khas tradisi harus tetap nampak dalam karya-karya kita. Tahun 2021, Ibu sebagai ketua Dekranasda tetap memegang nilai-nilai itu dan tetap menjaga protokol kesehatan. Tetapi kita tidak boleh berhenti lalu diam.

Jadi program-program Dekranasda untuk tahun 2021 ini lebih fokus ke pameran-pameran, untuk memberdayakan dan men-support UMKM. Selain itu saya juga menambahkan misi edukasi. Terkait dengan tanggung jawab menjaga kelestarian warisan budaya leluhur kita, mengedukasi profesionalisme dalam berwira usaha. Di pameran ini saya ajarkan kita harus cerdas menentukan harga, misalnya, jangan sembarangan menentukan harga, misalnya terlalu mahal. Sekarang juga jamannya fixed price. Kita juga harus jujur dan rasional memberikan harga ke konsumen kita. Di pameran ini juga kami mendidik penjual untuk memberikan harga fix. Tidak ada tawar-menawar. Kami juga mendidik UMKM ini, untuk di pameran ini tawarkan harga promo. Jadi produsen tidak rugi-rugi banget, ada untung 20-25%. Kita harus cerdas menentukan harga. Untuk pameran online, peserta pameran kami persilahkan untuk masuk ke market place balimall. Id. Sehingga ketika mereka berpameran offline, orang juga mengklik online di balimall.id.

Apakah peserta pameran online/offline dikenai biaya untuk program ini?

Untuk mengikuti pameran online dan offline itu sama sekali tidak ada biaya. Dari Dekranasda tidak ada biaya apa pun, karena kami hanya menyediakan tempat. Tetapi kami harus mengajak tim kreatif yang mengurus kelancaran semua kegiatan pameran tersebut. Kami dari Dekranasda bertugas mengkurasi peserta pameran, UMKM mana yang boleh dan mana yang tidak boleh ikut, lalu kami menyediakan tempatnya gratis.

Di dalam berpameran tersebut, tahun 2020 kami tidak ada anggaran untuk konsumsi, keamanan dan kebersihan. Tim kreatif inilah yang mengajak mereka, para peserta pameran patungan biaya untuk konsumsi, kebersihan dan keamanan. Kami dari Dekranasda tidak terlibat dalam urusan itu. Jadi biaya- biaya yang mereka keluarkan untuk kepentingan pribadi mereka, misalnya keamanan produknya, kebersihan lingkungannya, dan konsumsi mereka saat menjaga di situ. Ini juga ada misi mendidik, agar mereka mandiri dan belajar berbisinis dengan baik. Kami memahami bahwa di saat pandemi ini, masyrakat tidak sekedar perlu uang atau sembako, tetapi masyarakat perlu pemerintah menyediakan ruang-ruang untuk mereka bergerak dan berusaha, tentu dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Selain pameran produk-produk unggulan kreatif karya orang Bali, pameran ini juga menekankan kandungan edukasinya?

Ya, kita juga ada misi Pendidikan dalam pameran UMKM ini. Di sela- sela acara pameran, kita mendatangkan konsultan, pakar-pakar bisnis, dan sebagainya. Jadi ada pelatihan dan seminar- seminar tentang manajemen bisnis, tentang pajak, manajemen produksi, keuangan, pemasarannya. Tidak terlalu serius tapi ilmunya dapat.

Dalam pameran-pameran berikutnya, salah satunya yang diselenggarakan mulai tanggal 1 Februari ini, Saya juga akan melatih para UMKM untuk men- display tempat berjualannya agar lebih artistik. Saya ingin para peserta mampu memuliakan karya-karya yang mereka jual dan pamerkan dengan cara men-display yang baik dan menarik. Jadi produk yang semula biasa saja, ketika dipajang denga display yang bagus, dengan latar belakang yang bagus, akan terlihat lebih elegan. Ini karena saya melihat para UMKM di Bali sering mendapat undangan berpameran ke luar daerah, bahkan ke luar negeri. Supaya mereka bisa men-display karyanya dengan lebih menarik. Saya melatih mereka dengan berpraktek langsung bagaimana men-display barang yang dipamerkan agar lebih menarik. Untuk yang berikutnya saya selalu mencari UMKM-UMKM yang baru yang potensial untuk masuk di marketplace balimall.id.

Untuk pameran berikutnya, saya ingin lebih khusus membina industri kecilnya yaitu IKM-IKM. Karena saya menyadari, jika kita merawat IKM dengan baik, ke depannya UKM dan UMKM juga akan ikut berkembang. Saya juga mendidik karakter IKM, UKM dan UMKM dalam hal kedisiplinan dan personal identity, serta profesionalisme yang penting dalam berwirausaha. Dan IKM, UKM serta UMKM yang saya ikutkan dalam pameran ini akan saya jadikan percontohan IKM, UKM dan UMKM yang kuat dan punya daya saing.

Mengenai pameran online, daya jangkaunya tentunya akan lebih luas dan kemungkinan bisa menjangkau pasar luar negeri, dan sangat memungkinkan meski di situasi Pandemi. Pembeli dari luar negeri bisa mengakses balimall. Id. Dan peserta pameran jika udah masuk ke pameran online, mereka harus rajin update produknya secara online. Jangan sampai pembeli kecewa jika produk yang sudah mereka ingin beli secara online ternyata stoknya kosong. Jadi yang dipamerkan online juga harus selalu tersedia stoknya. Barang yang ada stoknya, itu yang harus mereka tampilkan fotonya di marketplace. Balimall. Id adalah salah satu marketplace yang didirikan oleh puteri Bali, Ibu doktor Arie dari Universitas Udayana. Selain pembeli luar negeri, saya juga ingin agar kita jangan sampai kehilangan pembeli lokal. Misalnya kain Bali, tentunya pembelinya lebih banyak masyarakat Bali sendiri. Meski kita juga membuka pasar internasional, misalnya sekarang Christian Dior juga sudah memakai kain endek Bali untuk salah satu rancangannya.

Bisa dijelaskan kaitan Christian Dior dengan kain endek Bali?

Tentang Christian Dior dan kain endek Bali, selain berbangga, para pengrajin kain endek di Bali juga harus mendapatkan manfaatnya. Jangan sampai mereka memakai kain endek Bali tapi produksi kainnya tidak dibeli di Bali. Itu yang sangat dijaga oleh Bapak Gubernur. Jadi salah satu persyaratan ijin dari Gubernur Bali adalah bahwa Christian Dior harus membeli produk kain endeknya dari para pengrajin di Bali, yang ditenun oleh para pengrajin di Bali. Agar ini terlaksana, eksportirnya juga kita harus tahu. Eksportirnya juga harus dari Bali. Ini yang kemudian dijadikan percontohan Kementrian Perdagangan di Jakarta. Jadi tgl 5 Februari 2021 ini MOU dengan Christian Dior ini ditanda tangani. Prosesnya sudah mulai jalan. Penenunnya salah satunya dari Putri Ayu, Gianyar. Pertenunan ini sudah cukup lama berkiprah di dunia pertenunan Bali. Pertenunan Putri Ayu ini yang mengkoordinasi para penenun di Bali untuk memproduksi kain endek untuk Christian Dior.

Ke depannya Kemenkumham juga akan mengeluarkan hak cipta komunal untuk kain endek Bali. Itu bagus untuk payung hukum terhadap para produsen kain tenun dan kerajinan kecil lainnya di Bali. Sehingga seniman dan pengrajin kita terjamin keberadaan karyanya karena sudah ada payung hukum yang melindungi mereka. Karena sekarang banyak sekali pembajakan terhadap karya cipta seniman-seniman Bali.

Di pameran-pameran ini, yang berbelanja juga banyak yang merupakan undangan dari Bapak Gubernur. Jadi pak Gubernur mendatangkan pembeli- pembeli untuk peserta pameran UMKM ini. Ini bentuk support pemerintah terhadap UMKM. Jadi setelah para undangan berbelanja, mereka mengadakan fashion show, mereka peragakan busana yang sudah mereka beli. Misalnya dari Dharma Wanita. Untuk meramaikan suasana. Tetapi tetap kami batasi jumlah yang datang agar tidak ada kerumunan. Peserta kami batasi tidak lebih dari 15 orang sesuai protokol kesehatan untuk menjaga jarak. Ini salah satu support dari bapak Gubernur, ada himbauan untuk para pegawai negeri agar berbelanja di pameran UMKM ini. Karena di tengah pandemi ini, siapa lagi yang bisa berbelanja dan mensupport UMKM kalo bukan pegawai negeri?

Tahun 2021 ini, semoga Pandemi sudah reda, kami akan mengaujkan usulan pada bapak Gubernur untuk mengadakan peragaan busana dari para desainer Bali untuk mempengaruhi trend busana tahun 2022, gaya busana masyarakat Bali tahun 2022. Kami mengajak sekaligus menantang para desainer kita, mampukah mempengaruhi gaya busana masyarakat Bali? Rencana kami akan adakan bulan Oktober-November 2021.